BANYUASIN, Catatan Jurnalist — Kabupaten Banyuasin yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kelapa terbesar di Indonesia kini menapaki babak baru transformasi ekonomi. Berbasis kekayaan komoditas lokal, Banyuasin berkembang menjadi pusat inovasi energi terbarukan sekaligus magnet investasi kelas internasional.
Hamparan perkebunan kelapa yang membentang dari kawasan pesisir hingga pedalaman menjadikan Banyuasin memiliki keunggulan komparatif yang jarang dimiliki daerah lain. Produksi kelapa yang melimpah selama ini menjadi penopang utama ekonomi masyarakat, sekaligus membuka peluang besar bagi pengembangan industri hilir bernilai tambah tinggi.
Potensi strategis tersebut menarik perhatian PT Green Power Palembang, perusahaan yang didukung teknologi Jepang, untuk menanamkan investasi berskala besar di Banyuasin. Perusahaan ini membangun pabrik bahan baku Bio-Avtur pertama di dunia yang memanfaatkan kelapa sebagai bahan baku utama, sekaligus menempatkan Sumatera Selatan sebagai pelopor inovasi bahan bakar pesawat ramah lingkungan berbasis komoditas lokal.
Groundbreaking pembangunan pabrik Bio-Avtur oleh Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menandai pergeseran signifikan arah pembangunan daerah. Banyuasin tak lagi hanya mengandalkan ekspor bahan mentah, tetapi bergerak menuju industrialisasi berteknologi tinggi yang terintegrasi dengan rantai pasok global.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengatakan, pembangunan terminal khusus yang terintegrasi dengan PT Green Power Palembang diharapkan mampu menciptakan ekosistem industri baru berbasis kelapa.
“Kita harapkan ini menjadi ekosistem baru, khususnya kelapa yang selama ini hanya kita jual dalam bentuk utuh. Ini luar biasa, Kabupaten Banyuasin,” ujar Herman Deru, usai meninjau rencana pembangunan dermaga PT Green Power Palembang, Selasa (20/01/2026).
Ia menambahkan, pengolahan kelapa sebagai bahan baku energi terbarukan akan memberikan nilai tambah bagi petani dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Sementara itu, Bupati Banyuasin Askolani menyebut hari ini sebagai momentum bersejarah bagi Banyuasin dengan masuknya investasi dari Jepang.
“Hari ini adalah hari bersejarah bagi Banyuasin. Ada investor dari Jepang yang menanamkan modalnya untuk membangun pabrik energi terbarukan pertama di dunia, dan itu ada di Kabupaten Banyuasin,” kata Askolani.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Banyuasin siap memberikan dukungan penuh terhadap investasi tersebut.
“Kami akan menyambut baik investasi ini, memberikan dukungan, dan mengajak masyarakat untuk memastikan ketersediaan bahan baku kelapa. Artinya, kita dorong masyarakat untuk kembali menanam kelapa,” tambahnya.
Baca Juga :
Kelapa yang sebelumnya dipasarkan sebagai bahan pangan dan kebutuhan industri tradisional, kini diolah menjadi Crude Coconut Oil (CCO) untuk mendukung pengembangan bahan bakar alternatif sektor penerbangan global. Inisiatif ini sejalan dengan upaya internasional dalam menekan emisi karbon dan mempercepat transisi energi bersih.
Dalam proyek tersebut, PT Green Power Palembang menginvestasikan dana sebesar Rp310 miliar untuk pembangunan pabrik. Selain itu, perusahaan mengalokasikan biaya produksi sekitar Rp400 miliar per tahun untuk pengadaan bahan baku. Kehadiran industri ini juga diproyeksikan menyerap sekitar 500 tenaga kerja lokal, memberikan dampak langsung bagi perekonomian masyarakat Banyuasin.
Investasi energi terbarukan ini merupakan bukti kesiapan daerah dalam menyongsong ekonomi masa depan yang berkelanjutan.
Transformasi ini semakin memperkuat posisi Sumatera Selatan sebagai provinsi yang adaptif terhadap tantangan global. Di tengah meningkatnya tuntutan dunia untuk menurunkan emisi karbon, Banyuasin tampil sebagai contoh konkret bagaimana daerah mampu mengintegrasikan sumber daya alam, inovasi teknologi, dan komitmen pembangunan berkelanjutan.
Laporan : Dede Sunarya












