SORONG, Catatan Jurnalist – Kelas publik tematik dalam Festival Sastra Sorong 2026 menghadirkan Dona Sabatina dari Sanggar Seni Gauri sebagai pemateri. Dalam sesi diskusi, ia menegaskan bahwa menulis merupakan sebuah keahlian yang hanya bisa diasah dengan konsistensi.
“Menulis itu keahlian. Kuncinya, kalau ingin menjadi penulis, harus terus menulis. Karya tidak pernah berhenti, tapi selalu menginspirasi yang lain,” ujarnya.
Kegiatan bertajuk “Mengubah Cerpen Menjadi Monolog/Naskah Drama” ini digelar oleh Rumah Kata Sorong di Perpustakaan Kota Sorong, Sorong, Minggu (26/4/2026), dan diikuti 18 peserta dari berbagai kalangan.
Dalam pemaparannya, Dona menjelaskan pentingnya memahami struktur dan alur cerita dalam proses menulis. Menurutnya, penulis pemula kerap merasa kesulitan karena terbiasa menulis tanpa pola.
“Awalnya terasa menyiksa karena kita terbiasa menulis bebas tanpa rumus. Tapi setelah memahami struktur, kita jadi mengerti alur cerita,” jelasnya.
Ia juga menyoroti bagaimana karya sastra, khususnya cerpen, dapat berkembang lintas medium. Karya tulis, menurutnya, tidak berhenti sebagai teks, melainkan bisa bertransformasi menjadi berbagai bentuk seni lain.
“Karya itu tidak pernah berhenti. Cerpen bisa jadi teater, film, bahkan seni rupa. Seperti novel Harry Potter yang diadaptasi menjadi film hingga drama musikal,” katanya.
Dona menambahkan, karya klasik seperti Romeo dan Juliet karya William Shakespeare menjadi bukti bahwa sebuah cerita mampu melintasi zaman dan terus menginspirasi berbagai bentuk karya hingga saat ini.
Lebih jauh, ia menjelaskan perbedaan mendasar antara cerpen dan naskah drama. Cerpen bekerja melalui narasi dan imajinasi pembaca, sementara naskah drama menuntut visualisasi nyata di atas panggung.
“Di panggung tidak ada narator. Perasaan harus menjadi tindakan, pikiran harus menjadi dialog atau gestur. Di situlah cerpen berubah menjadi teks dramatik yang hidup,” ungkapnya.
Menurutnya, menulis adalah aktivitas seni yang membutuhkan latihan terus-menerus. Seiring waktu, penulis akan terbiasa dan mampu menulis secara mengalir dengan struktur yang kuat.
Kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus eksplorasi bagi peserta dalam menajamkan intuisi, imajinasi, dan kemampuan menulis secara terstruktur.
Festival Sastra Sorong 2026 terselenggara dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan.















