MUSI BANYUASIN, Catatan Jurnalist — Kerusakan jalan di Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), mendapat penanganan cepat melalui kolaborasi lintas pihak. Pemerintah setempat bersama perusahaan dan pelaku usaha menerapkan dua skema perbaikan, yakni darurat dan jangka panjang.
Langkah ini merupakan tindak lanjut instruksi Bupati Muba Toha Tohet untuk memastikan akses masyarakat tetap berjalan meski kondisi jalan mengalami kerusakan cukup parah.
Kesepakatan pembagian zona perbaikan darurat tersebut dibahas dalam rapat di Aula Kantor Camat Sanga Desa, Jumat (24/4/2026). Rapat dihadiri unsur Forkopimcam, para kepala desa dan lurah, serta perwakilan sejumlah perusahaan seperti PT Medco Gersik Ltd, PT Astaka Dodol, PT IBP, PT WPG, PT Lonsum, dan pelaku usaha sawmill.
Camat Sanga Desa, Rusdiwan mengatakan pembagian zona menjadi solusi cepat untuk mencegah lumpuhnya mobilitas warga.
“Perbaikan darurat ini penting agar aktivitas masyarakat tetap berjalan. Kami juga mendorong kepala desa dan lurah mengajak seluruh pihak yang berkepentingan untuk terlibat aktif,” ujarnya.
Dalam skema tersebut, masing-masing perusahaan bertanggung jawab pada ruas jalan tertentu. PT Medco Gersik Ltd bersama mitra kontraktor menangani wilayah Desa Macang Sakti. PT Astaka Dodol fokus di Keban I, Kemang, dan Terusan. PT IBP mengerjakan ruas Terusan dan Ulak Embacang.
Selanjutnya, PT WPG dan PT Lonsum menangani Jalan Ketapang di Kelurahan Ngulak. Sementara pelaku usaha sawmill dilibatkan untuk membantu perbaikan di sejumlah titik prioritas lainnya.
Penanganan darurat dilakukan dengan menimbun jalan berlubang menggunakan material batu gunung di masing-masing zona.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Muba juga telah menyiapkan solusi permanen. Kepala Dinas PUPR Muba, Rudianto ST, menyebut perbaikan jangka panjang telah dianggarkan untuk tahun 2026.
“Perbaikan permanen akan dilakukan melalui APBD dan Bantuan Keuangan Bersifat Khusus (BKBK) dari provinsi, terutama untuk peningkatan ruas Mangun Jaya–Macang Sakti,” jelasnya.
Ia menambahkan, faktor cuaca masih menjadi kendala utama dalam proses perbaikan. Curah hujan tinggi membuat kondisi tanah labil dan mempercepat kerusakan jalan.
“Selama hujan masih tinggi, perbaikan darurat akan terus dilakukan. Setelah kondisi memungkinkan, penanganan akan dimaksimalkan agar akses masyarakat kembali normal,” pungkasnya.












