BANYUASIN, Catatan Jurnalist – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut fenomena El Nino yang datang lebih cepat dari perkiraan menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026.
Kondisi tersebut membuat pemerintah meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang memiliki kawasan hutan dan lahan gambut luas seperti Sumatera Selatan.
Raja Juli mengatakan, berdasarkan pola yang selama ini terjadi, fenomena El Nino cenderung muncul dalam siklus tertentu dan dapat memicu musim kemarau lebih panjang. Tahun ini, kondisi tersebut datang lebih cepat sehingga pemerintah harus meningkatkan langkah antisipasi.
“Karena datang lebih cepat dan musim kemarau datang lebih awal serta berlangsung lebih lama, Presiden mengumpulkan menteri terkait dalam rapat terbatas,” ujar Raja Juli saat meresmikan Pusat Persemaian Sriwijaya Kemampo di Banyuasin, Sumatera Selatan, Jumat (7/8/2026) siang kemarin
Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto telah meminta kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah memperkuat upaya pencegahan serta penanganan karhutla, khususnya di Sumsel dan sejumlah provinsi yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Pemerintah juga menyiapkan dukungan anggaran untuk memastikan langkah pencegahan dan penanggulangan karhutla dapat berjalan optimal.
“Dengan anggaran yang cukup, insya Allah bersama pemerintah daerah kita berupaya agar angka karhutla tahun ini tidak sebesar saat El Nino sebelumnya,” katanya.
Lima Helikopter Water Bombing Disiapkan
Raja Juli mengungkapkan, sejumlah titik karhutla masih ditemukan di Sumatera Selatan, antara lain di Kabupaten Banyuasin dan Ogan Ilir.
Untuk mempercepat penanganan, Kementerian Kehutanan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan lima unit helikopter water bombing.
Selain dukungan udara, pasukan darat juga disiapkan untuk membantu proses pemadaman dan penanganan di lapangan. Pemerintah mengingatkan masyarakat maupun perusahaan agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.
“Sumsel menjadi prioritas. Pasukan darat juga siap membantu masyarakat, selama masyarakat disiplin dan tidak melakukan land clearing dengan cara membakar, termasuk perusahaan,” tegas Raja Juli.
Ia juga meminta perusahaan pemegang konsesi mematuhi seluruh ketentuan dalam pembukaan lahan. Jika ditemukan unsur kesengajaan dalam pembakaran yang menyebabkan karhutla, aparat penegak hukum diminta mengambil tindakan tegas.
“Kalau ada perusahaan nakal yang membuka lahan dengan cara dibakar dan kemudian menimbulkan karhutla, jangan segan-segan ditindak,” ujarnya.
Sumsel Miliki 1,4 Juta Hektare Lahan Gambut
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengatakan tantangan penanganan karhutla di wilayahnya cukup besar karena Sumsel memiliki kawasan hutan dan lahan gambut yang luas.
Menurut Herman, luas lahan gambut di Sumsel mencapai sekitar 1,4 juta hektare. Kondisi tersebut membutuhkan pengawasan dan upaya pencegahan yang lebih kuat.
“Memang ada beberapa daerah yang terjadi karhutla. Penyebabnya bisa karena ulah manusia, faktor alam, dan lainnya. Karena itu seluruh kepala daerah di Sumsel sudah berkomitmen mencegah dan mengatasi karhutla di wilayah masing-masing,” kata Herman.
Ia berharap pemerintah pusat dapat memperkuat dukungan personel, termasuk menambah jumlah polisi kehutanan untuk meningkatkan pengawasan dan perlindungan kawasan hutan di Sumatera Selatan.
Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat kini terus memperkuat koordinasi untuk mencegah karhutla meluas selama musim kemarau. Pencegahan dini dinilai menjadi kunci untuk menekan dampak kebakaran terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, serta perekonomian daerah.














