Pemerintah Pusat Gelontorkan Rp486 Miliar untuk Perbaikan 1.565 KM Jalan Nasional Sumsel

BANYUASIN, Catatan Jurnalist – Jalan Lintas Timur (Jalintim) Sumatera ruas Palembang-Betung yang rusak dan bergelombang selama ini menjadi keluhan serius masyarakat. Selain menghambat mobilitas, kondisi jalan yang menjadi salah satu urat nadi perekonomian Sumatera tersebut juga dinilai rawan menimbulkan kecelakaan.

Merespons kondisi itu, pemerintah pusat melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumatera Selatan mengalokasikan anggaran sekitar Rp486 miliar untuk penanganan jalan nasional sepanjang 1.565 kilometer di wilayah Sumatera Selatan.

Salah satu ruas yang menjadi perhatian adalah Jalan Lintas Timur Palembang-Betung, khususnya kawasan perbatasan Kota Palembang hingga Betung, Kabupaten Banyuasin.

Kepala BBPJN Sumatera Selatan Panji Krisna Wardana mengatakan, berbagai keluhan masyarakat yang disampaikan melalui pemerintah daerah telah mendapat respons dari pemerintah pusat.

“Saat ini kita berada di ruas jalan batas Kota Palembang hingga Betung, tepatnya di KM 17, Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin. Di sini sedang dilakukan pekerjaan rekonstruksi jalan,” kata Panji saat meninjau langsung proses perbaikan Jalintim KM 17 Talang Kelapa, Jumat (24/7/2026) kemarin sore.

Menurutnya, penanganan infrastruktur jalan di Kabupaten Banyuasin saat ini difokuskan pada sejumlah ruas strategis, di antaranya jalan dari batas Kota Palembang menuju Betung serta ruas batas Kota Palembang menuju Tanjung Api-Api.

Secara keseluruhan, BBPJN Sumsel menangani jalan nasional sepanjang 1.565 kilometer dengan berbagai metode, mulai dari pemeliharaan rutin, pemeliharaan efektif hingga rekonstruksi.

Untuk ruas batas Kota Palembang-Betung, tingkat kemantapan jalan saat ini mencapai sekitar 92 persen. Artinya, masih terdapat sekitar delapan persen ruas yang membutuhkan penanganan,Jadi ada posisi kurang lebih 8% yang tidak mantapnya.

Salah satu titik yang kini direkonstruksi berada di KM 17 dengan panjang penanganan sekitar 600 meter. Pekerjaan dilakukan menggunakan konstruksi beton rigid pavement dengan teknologi fast track.

Panji menjelaskan, teknologi fast track dipilih untuk mempercepat proses pengerjaan sekaligus meminimalkan dampak terhadap arus lalu lintas yang sangat padat di kawasan tersebut.

“Dengan teknologi beton fast track, dalam waktu sekitar 24 jam sudah bisa memenuhi persyaratan mutu. Jadi karena di sini membutuhkan percepatan, pekerjaan dilakukan dari pagi hingga malam dan ditargetkan selesai pada pagi hari. Setelah itu jalan bisa kembali dilalui,” jelasnya.

Untuk menjaga kelancaran lalu lintas, pekerjaan juga disesuaikan dengan kondisi kepadatan kendaraan. Khusus pada akhir pekan, aktivitas pekerjaan dihentikan sementara agar tidak memperparah kemacetan di Jalintim Palembang-Betung yang menjadi jalur utama kendaraan dari dan menuju Palembang.

BBPJN Sumsel juga terus berkoordinasi dengan forum lalu lintas, kepolisian serta Dinas Perhubungan untuk mengatur arus kendaraan di sekitar lokasi pekerjaan.

Panji mengatakan, pada tahun 2026 pihaknya memiliki paket pekerjaan sekitar Rp12 miliar untuk penanganan menggunakan rigid pavement, termasuk penggantian gorong-gorong yang sebelumnya mengalami kerusakan di KM 13.

“Insya Allah pekerjaan ini ditargetkan tuntas pada Agustus. Hanya saja, anggaran kita memang terbatas. Kalau usulan, tentu kita ingin seluruh ruas yang rusak bisa ditangani, tetapi dengan kondisi anggaran saat ini, penanganan secara masif belum memungkinkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, penanganan secara menyeluruh di ruas Palembang-Betung juga harus mempertimbangkan tingginya volume kendaraan. Sebab, gangguan di satu titik saja dapat memicu antrean panjang dan berdampak terhadap arus lalu lintas di sepanjang jalur tersebut.

Karena itu, pemerintah berharap keberadaan Tol Palembang-Betung nantinya dapat mengurangi beban lalu lintas di jalur nasional tersebut. Dengan berkurangnya volume kendaraan, penanganan jalan secara lebih masif diharapkan dapat dilakukan dengan gangguan lalu lintas yang lebih kecil.

“Setelah tol ini jadi, kami berharap volume lalu lintas di batas Kota Palembang hingga Betung jauh berkurang. Dengan begitu, penanganan dengan metode seperti ini bisa dilakukan lebih leluasa tanpa menimbulkan dampak kemacetan yang panjang seperti saat ini,” katanya.

Secara keseluruhan, BBPJN Sumsel mengalokasikan anggaran Rp486 miliar untuk penanganan jalan nasional sepanjang 1.565 kilometer selama 2026. Pekerjaan tersebut mencakup pemeliharaan rutin, pemeliharaan efektif hingga rekonstruksi yang ditargetkan berlangsung sepanjang tahun, termasuk untuk menghadapi arus mudik Lebaran dan libur Natal serta Tahun Baru.

Baca juga:

Namun, proses perbaikan Jalintim Palembang-Betung masih menghadapi sejumlah kendala. Selain tingginya volume kendaraan, pekerjaan juga harus memperhatikan keberadaan utilitas di bawah badan jalan, termasuk jaringan pipa gas.

“Di sini ada pipa gas sehingga sebelumnya kami harus berkoordinasi dengan pihak Pertagas. Kami juga mengevaluasi desain agar seluruh pekerjaan tetap aman terhadap kendaraan maupun beban tambahan di atasnya,” jelas Panji.

Selain lalu lintas dan utilitas, faktor cuaca juga menjadi salah satu hal yang turut diperhatikan. Meski demikian, hingga saat ini kondisi cuaca dinilai masih cukup mendukung untuk pelaksanaan pekerjaan.

Dengan penggunaan teknologi beton fast track dan koordinasi lintas instansi,  BBPJN berharap perbaikan sejumlah titik rusak di Jalintim Palembang-Betung dapat dikebut tanpa menimbulkan gangguan lalu lintas berkepanjangan. Masyarakat pun diharapkan dapat segera menikmati akses jalan yang lebih aman dan nyaman di jalur strategis penghubung Palembang-Betung tersebut.

banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *