PALEMBANG, Catatan Jurnalist — Sikap cepat dan responsif Ketua DPRD Sumatera Selatan, Andie Dinialdie, dalam merespons polemik pengadaan fasilitas di rumah dinasnya menuai apresiasi dari berbagai kalangan dan dianggap sebagai sebuah sikap Kesatria . Keputusan untuk membatalkan rencana pengadaan meja biliar dinilai sebagai bentuk kepekaan terhadap aspirasi masyarakat.
Pengamat politik Bagindo Togar menilai langkah tersebut menunjukkan kepemimpinan yang terbuka terhadap kritik publik. Menurutnya, tidak semua pejabat mampu menerima masukan masyarakat dan mengambil keputusan cepat ketika muncul polemik.
“Keputusan tersebut mencerminkan tanggung jawab sosial seorang pemimpin. Ketika muncul penolakan dan kritik dari masyarakat terkait rencana pengadaan fasilitas tersebut, Ketua DPRD Sumsel memilih untuk mengevaluasi sekaligus membatalkan rencana tersebut,” kata Bagindo, Minggu (15/03/2026).
Sebelumnya, rencana pengadaan meja biliar di rumah dinas sempat menjadi sorotan publik. Sebagian masyarakat menilai fasilitas tersebut berpotensi menimbulkan persepsi negatif karena dianggap tidak terlalu mendesak.
Meski demikian, Bagindo Togar menjelaskan bahwa arena biliar sebenarnya tidak selalu identik dengan hiburan semata. Dalam praktiknya, ruang-ruang informal seperti itu sering menjadi tempat komunikasi sosial maupun diskusi santai dengan berbagai komunitas, termasuk kalangan olahraga.
Baca juga : https://www.catatanjurnalist.com/hantam-soroti-dana-fantastis-mebelair-rumah-dinas-dprd-sumsel-rp46-miliar-lampu-hias-tembus-rp604-juta/
“Namun demikian, keputusan Andie Dinialdie untuk membatalkan pengadaan tersebut dinilai sebagai sikap legowo sekaligus menunjukkan komitmen untuk mendahulukan aspirasi publik,” ungkap alumni Unsri ini.
Langkah tersebut juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi pimpinan dewan dan pejabat publik lainnya agar lebih terbuka terhadap kritik dan masukan masyarakat dalam menjalankan roda pemerintahan.
Laporan : Dapites












