Penggiat Budaya Lestarikan Sejarah Lewat Ziarah ke Makam Raja Palembang Terakhir

OGAN ILIR, Catatan Jurnalist Sejumlah penggiat budaya Sumatera Selatan (Sumsel) melakukan ziarah ke makam Raja Palembang terakhir, Pangeran Sido Ing Rejek, di kawasan Sakatiga Ilir, Kabupaten Ogan Ilir, Minggu (12/7/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari persiapan pelaksanaan Tabur Bunga Leluhur Palembang Darussalam yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Agustus 2026.

Rombongan yang hadir terdiri dari berbagai unsur masyarakat, di antaranya Staf Khusus Gubernur Sumsel Kemas Khoirul Mukhlis, Ketua DPW Syarikat Islam Sumsel Vaishol Sandrogi, budayawan Sumsel Vebri Al Lintani, konten kreator Palembang Raden Genta Laksana, Quresh, seniman Sumsel Ali Goilk, serta jurnalis Dudy Oskandar.

Selain memanjatkan doa dan melakukan tabur bunga, rombongan juga meninjau kawasan makam yang direncanakan menjadi pusat pelaksanaan kegiatan Tabur Bunga Leluhur. Agenda tersebut diharapkan menjadi momentum untuk mengenang jasa para pemimpin terdahulu sekaligus memperkuat kesadaran sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Palembang.

Staf Khusus Gubernur Sumsel, Kemas Khoirul Mukhlis, mengatakan ziarah ke makam para tokoh dan leluhur merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang peradaban Palembang yang tidak boleh dilupakan oleh generasi penerus.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin menghidupkan kembali semangat menghormati para pendahulu yang telah meletakkan dasar peradaban Palembang. Sejarah harus dirawat dan diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya.

Senada dengan itu, budayawan Sumsel Vebri Al Lintani menilai makam Pangeran Sido Ing Rejek memiliki arti penting dalam perjalanan sejarah Palembang. Menurutnya, situs tersebut menjadi saksi masa transisi kekuasaan sebelum berdirinya Kesultanan Palembang Darussalam.

Pangeran Sido Ing Rejek yang juga dikenal dengan gelar Jamaluddin Mangkurat VI atau Pangeran Ratu Sultan Jamaluddin Mangkurat VI, tercatat sebagai salah satu penguasa terakhir Kerajaan Palembang. Berdasarkan sejumlah catatan sejarah, masa pemerintahannya berlangsung sekitar tahun 1651 hingga 1659.

Dalam perjalanan sejarah Palembang, Pangeran Sido Ing Rejek menggantikan Pangeran Sido Ing Pasarean. Pada masa pemerintahannya, hubungan Palembang dengan VOC semakin memanas hingga berujung pada serangan besar pada tahun 1659 yang mengakibatkan Keraton Kuto Gawang dibakar.

Pasca peristiwa tersebut, Pangeran Sido Ing Rejek memilih menyingkir ke wilayah Sakatiga, yang kini masuk Kabupaten Ogan Ilir. Di tempat itulah beliau menghabiskan akhir hayatnya dan dimakamkan.

Para tokoh yang hadir berharap kegiatan Tabur Bunga Leluhur Palembang Darussalam nantinya tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga mampu mengangkat kembali situs-situs bersejarah yang selama ini kurang dikenal masyarakat.

Dengan semakin dikenalnya makam Pangeran Sido Ing Rejek, diharapkan kawasan tersebut dapat berkembang menjadi destinasi wisata sejarah dan religi yang memperkaya khazanah budaya Sumatera Selatan sekaligus memperkuat kecintaan masyarakat terhadap warisan leluhurnya.

banner 970x250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *