JAKARTA, Catatan Jurnalist — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menggelar pertemuan dan dialog terbuka dengan sejumlah tokoh nasional di kediamannya di Jalan Kertanegara, Jakarta, Jumat malam (30/1/2026). Pertemuan tersebut membahas berbagai isu strategis kebangsaan, mulai dari kepemiluan, penegakan hukum, hingga tata kelola negara.
Mantan Ketua, KPK Abraham Samad menyebutkan dirinya dihubungi Menhan Sjafri Syamsudin dan sejumlah tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut untuk berdiskusi mengenai program pemerintah.
“Tadi disebutkan ada Prof. Dr. Siti Zuhro Menlu Sugiano, Mensesneg Presetyo, Susno Duadji, Menhan Meyjen (Purn) Saki Makarim, Said Didu. Sebelumnya direncakan pertemuan di Hambalang namun bergeser ke Kertanegara. Pertemuan cukup serius dari 17.30 sampai 21.00 malam.” kata Abraham Samad, dikutip keterangan Abraham Samad dari Youtube Kompas TV, Minggu (01/02/2026).
“Presiden Prabowo mempresentasikan program-program kerakyatan yang telah dilaksanakan, termasuk program penyelamatan sumber daya alam, termasuk hasil dari kunjungan ke Word Economi Forum di Davos Swiss, pemberantasan korupsi, penegakan hukum, reformasi Polri,” jelas Abraham.
Diungkapkan Abraham, dalam pertemuan tersebut disampaikan keseriusan pemerintah serius memperbaiki tata kelola sumber daya alam. Bahkan disampaikan pada saat dirinya menjabat Ketua KPK pernah konsentrasi terhadap sumber daya alam. Saat itu ada Gerakan Nasional Penyelematan Sumber Daya Alam bersama TNI, Polri dan Jaksa Agung.
“Pemeritah ini serius memperbaiki tata kelola sumber daya alam, sehingga pemerintah konsentrasi membongkar praktek korupsi pada itu akan terus dilakukan,” kata Abraham.
Sebelumnya disampaikan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan, para tokoh yang hadir bukanlah unsur oposisi politik, melainkan tokoh masyarakat yang memiliki kapasitas dan perhatian terhadap persoalan bangsa.
“Di antaranya ada Profesor Siti Zuhro yang berdiskusi mengenai masalah kepemiluan. Kemudian ada Pak Susno Duadji yang membahas soal penegakan hukum. Banyak isu yang dibicarakan,” ujar Prasetyo di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Prasetyo menegaskan, Presiden Prabowo secara terbuka menerima masukan dan pandangan dari para tokoh tersebut sebagai bagian dari tradisi dialog kebangsaan. Dalam pertemuan itu, Presiden juga menjelaskan berbagai program pemerintah yang telah dijalankan selama lebih dari satu tahun masa kepemimpinannya.
“Beliau menjelaskan program-program yang seluruhnya berorientasi pada kepentingan rakyat, bangsa, dan negara,” tegas Prasetyo.
Ia juga memastikan tidak ada tokoh politik dalam pertemuan tersebut. “Enggak ada, enggak ada tokoh politik,” singkatnya.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sebelumnya menyebut pertemuan tersebut melibatkan sejumlah tokoh nasional yang menyebut diri sebagai oposisi. Pernyataan itu disampaikannya saat memberikan materi kepada anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dalam kegiatan retreat di kawasan Cibodas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/1/2026), sebagaimana dilansir Antara.
“Semalam Bapak Presiden bertemu dengan beberapa tokoh nasional yang tanda kutip menyebut diri sebagai oposisi,” ujar Sjafrie.
Menurut Sjafrie, dialog tersebut menitikberatkan pada pembahasan bagaimana negara seharusnya dikelola secara baik dan berkeadilan oleh seluruh elemen bangsa. Ia menyoroti masih adanya praktik-praktik yang merugikan negara, mulai dari pelanggaran regulasi oleh pihak swasta hingga dugaan kebocoran anggaran negara.
“Bahkan saya menerima laporan kurang lebih Rp5.777 triliun dari bank Himbara yang disalurkan kepada korporasi. Padahal APBN kita sekitar Rp300 sekian triliun. Pertanyaannya, ke mana kebocoran anggaran itu?” ungkap Sjafrie di hadapan peserta retreat.
Pertemuan tersebut mencerminkan komitmen Presiden Prabowo untuk membuka ruang dialog dan menyerap aspirasi dari berbagai kalangan demi penguatan tata kelola pemerintahan dan kepentingan nasional.(Red)














