MEDAN, Catatan Jurnalist – Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan (Zulhas), menegaskan bahwa arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini sejalan dengan semangat Teologi Al-Ma’un yang diwariskan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.
Pernyataan tersebut disampaikan Zulhas saat menghadiri peringatan Milad ke-109 ‘Aisyiyah dan Gebyar Muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ke-49 di Medan, Sumatera Utara, Minggu (14/6/2026).
Di hadapan sekitar seribu anggota ‘Aisyiyah yang hadir, Zulhas menjelaskan bahwa Teologi Al-Ma’un mengajarkan pentingnya keseimbangan antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Menurutnya, ibadah tidak hanya diwujudkan dalam hubungan dengan Tuhan, tetapi juga dalam keberpihakan kepada masyarakat, terutama kaum miskin, anak yatim, dan kelompok yang membutuhkan perhatian negara.
“Pemerintah saat ini berupaya menjalankan nilai-nilai Al-Ma’un. Salah satunya melalui penguatan swasembada pangan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani dan menjamin ketersediaan pangan bagi rakyat,” ujar Zulhas.
Ia menilai kebijakan swasembada pangan yang dijalankan Presiden Prabowo merupakan bentuk nyata keberpihakan kepada rakyat. Menurutnya, jika kebutuhan pangan nasional terus bergantung pada impor, maka yang diuntungkan justru petani dari negara lain.
“Kalau pangan kita masih mengandalkan pasar bebas dan impor, yang kaya adalah petani luar negeri. Dengan swasembada pangan, yang diperkuat adalah petani Indonesia. Inilah bentuk kemandirian dan kehormatan bangsa,” tegasnya.
Zulhas juga menyoroti semakin kuatnya implementasi Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya harus dikuasai negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Menurutnya, prinsip tersebut selaras dengan nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah yang sejak awal turut berkontribusi dalam membangun bangsa dan memperjuangkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Zulhas berharap organisasi perempuan Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, terus menjadi kekuatan sosial yang berperan penting dalam pendidikan, pemberdayaan perempuan, serta pembentukan karakter bangsa.
“‘Aisyiyah memiliki peran besar dalam mencetak generasi yang berakhlak, mandiri, dan berdaya saing. Kontribusi organisasi ini sangat penting dalam mendukung pembangunan bangsa,” katanya.
Sementara itu, Zulhas mengungkapkan sektor pangan nasional menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Pangan, produksi beras nasional pada 2025 mencapai lebih dari 34,69 juta ton atau meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Produksi jagung juga mengalami kenaikan menjadi 16,16 juta ton atau tumbuh 6,74 persen dibandingkan tahun 2024.
Peningkatan produksi tersebut berdampak langsung terhadap berkurangnya ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan. Bahkan pada 2025 hingga 2026, pemerintah tidak lagi melakukan impor beras konsumsi maupun jagung pakan.
“Ini bukti bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional. Ke depan, capaian ini harus terus dijaga dan ditingkatkan,” pungkasnya.
Rilis : Kemenko Pangan RI














