Hotspot Sumsel Tembus 7.057 Titik, Puncak Karhutla Di Depan Mata

PALEMBANG, Catatan Jurnalist Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan semakin mengkhawatirkan. Memasuki puncak musim kemarau, jumlah titik panas atau hotspot di wilayah Sumsel telah menembus 7.057 titik sepanjang 1 Januari hingga 10 Agustus 2026.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel menunjukkan peningkatan hotspot mulai terjadi sejak Mei dan terus melonjak pada Juni hingga Juli.

Kepala Pelaksana BPBD Sumsel M Iqbal Alisyahbana mengatakan, kenaikan paling signifikan terjadi pada Juli yang jumlahnya hampir dua kali lipat dibanding periode sebelumnya.

“Januari, Februari, Maret dan April masih landai. Kenaikan titik hotspot terjadi di bulan Mei, Juni dan Juli. Di bulan Juli kenaikannya hampir dua kali lipat lebih,” kata Iqbal dalam rapat evaluasi penanggulangan karhutla di Kantor BPBD Sumsel, Selasa (11/8/2026).

Memasuki Agustus, tren tersebut belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Dalam 10 hari pertama Agustus saja, BPBD mencatat 2.145 hotspot di Sumsel.

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena Sumsel kini memasuki periode puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September dan berpotensi berlanjut sampai Oktober.

“Puncak musim kemarau itu terjadi di bulan Agustus sampai nanti bulan Oktober. Di bulan Oktober ada potensi hujan,” ujar Iqbal.

1.077 KEJADIAN KARHUTLA

Lonjakan hotspot turut diikuti meningkatnya kejadian karhutla. BPBD Sumsel mencatat 1.077 kejadian karhutla sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Kebakaran terjadi hampir di seluruh kabupaten dan kota di Sumsel, dengan kejadian terbanyak tercatat di Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Ilir dan Muara Enim.

Ancaman semakin besar karena kondisi lahan gambut mulai mengering.

Iqbal mengungkapkan, hasil patroli udara bersama unsur TNI di sejumlah wilayah, khususnya OKI, menunjukkan gambut mulai kehilangan kadar air.

“Wilayah-wilayah gambut ini sudah mulai mengering dan potensi kebakarannya akan semakin masif di bulan Agustus dan September,” ungkapnya.

Sementara itu, data luas lahan terbakar hingga Agustus masih dalam proses penghitungan. BPBD sementara mengacu pada data Kementerian Kehutanan yang mencatat lebih dari 600 hektare lahan terbakar hingga Juni 2026.

PALEMBANG MULAI DISELIMUTI ASAP

Ancaman karhutla kini mulai berdampak langsung terhadap kualitas udara. Sejumlah daerah di Sumsel masuk kategori tidak sehat, di antaranya Palembang, Musi Rawas, PALI, Lahat dan Prabumulih.

Khusus Palembang, kabut asap disebut mulai terasa hampir sepekan terakhir, terutama pada pagi hari.

“Kalau kita lihat pagi hari, saat subuh, asap sudah mulai sangat pekat,” kata Iqbal.

BPBD mengingatkan masyarakat tidak menganggap kondisi tersebut sepele karena paparan asap dapat mengganggu kesehatan.

DANREM: PENANGANAN MASIH TERKENDALI

Komandan Korem 044/Garuda Dempo Brigjen TNI Khabib Mahfud juga Komandan Satgas Karhutla terus melakukan berbagai upaya untuk mencegah kebakaran meluas.

Penanganan dilakukan melalui patroli darat dan udara, pemadaman, water bombing hingga operasi modifikasi cuaca atau OMC.

Menurut Khabib, meski jumlah hotspot cukup tinggi, luasan kebakaran di Sumsel masih relatif terkendali dibandingkan sejumlah daerah lain.

“Kondisi kebakaran di Sumatera Selatan ini masih bisa kita atasi. Satgas darat melaksanakan pemadaman, kemudian water bombing oleh BNPB dan Satgas Udara, ini sudah bisa mengatasi,” ujarnya.

Khabib juga menegaskan, kondisi udara saat ini belum memerlukan kebijakan meliburkan sekolah maupun aktivitas masyarakat.

“Visibility kita di udara masih di atas lima kilometer. Artinya indeks standar pencemaran udara kita masih di level yang belum memerlukan untuk meliburkan siswa ataupun pekerja,” katanya.

Untuk OMC, pelaksanaan akan dilakukan ketika kondisi awan memungkinkan. Satgas, kata Khabib, siap melakukan modifikasi cuaca kapan pun terdapat potensi awan yang bisa dimaksimalkan.

GAMBUT JADI PRIORITAS

Satgas Karhutla Sumsel kini memprioritaskan penanganan kawasan gambut yang dinilai memiliki risiko tinggi terbakar.

Beberapa wilayah menjadi perhatian, di antaranya Bayung Lencir, Muara Medan, Tulung Selapan, Cengal dan Pangkalan Lampam.

Khabib mengatakan hasil patroli udara menunjukkan sebagian kawasan gambut mulai mengering.

“Air sudah mulai mengering. Itu artinya kita harus lebih waspada,” tegasnya.

Selain mengandalkan pemerintah, masyarakat dan perusahaan juga didorong aktif dalam penanganan karhutla.

Khabib menyebut kelompok Masyarakat Peduli Api cukup aktif membantu pemadaman. Sejumlah perusahaan di kawasan gambut bahkan telah menyiapkan armada water bombing secara mandiri.

Salah satunya perusahaan yang memiliki empat helikopter untuk membantu operasi pemadaman dari udara.

11.567 PERSONEL DAN TUJUH HELI WATER BOMBING

Menghadapi puncak musim kemarau, sebanyak 11.567 personel gabungan disiagakan di seluruh wilayah Sumsel.

Kekuatan tersebut melibatkan BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Satpol PP, Polhut, Masyarakat Peduli Api, Regu Pemadam Kebakaran hingga unsur perusahaan.

Dari sisi udara, Sumsel akan diperkuat total tujuh helikopter water bombing dan dua helikopter patroli.

Tambahan dua helikopter water bombing dijadwalkan datang secara bertahap, masing-masing pada Kamis dan akhir Agustus.

Dengan kekuatan tersebut, Satgas Karhutla Sumsel berharap kebakaran dapat ditekan sebelum meluas dan memicu krisis kabut asap yang lebih parah.

Di sisi lain, masyarakat diminta ikut mencegah kebakaran, termasuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Sebab, di tengah gambut yang semakin mengering dan musim kemarau yang mencapai puncaknya, satu titik api kecil berpotensi berkembang menjadi kebakaran besar.

banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *