OGAN ILIR, Catatan Jurnalist — Serikat Petani Indonesia (SPI) Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan menyelenggarakan Musyawarah Cabang (Muscab) ke-III di Desa Rengas I, Kecamatan Payaraman, Muscab yang mengusung tema “Konsolidasi Gerakan Petani, Meneguhkan Barisan, dan Menguatkan Perjuangan Petani” itu tak sekadar rutinitas lima tahunan. Ia menjadi medan konsolidasi nyata bagi barisan petani dari akar rumput, Selasa, 8 Juli 2025.
Sejak pagi, kader-kader dan delegasi SPI dari basis-basis desa mulai berdatangan. Setelah registrasi, acara dibuka secara resmi lewat penyelenggaraan yang berlangsung tertib. Beberapa tokoh penting SPI hadir, di antaranya Dewan Pimpinan Pusat yang diwakili oleh Anggota Majelis Nasional SPI, Rohman, Ketua Badan Pelaksana Wilayah (BPW) SPI Sumatera Selatan, M. Arif, serta Kepala Biro Organisasi Wilayah, Muhkamat Arif, yang turut memimpin jalannya pembukaan.

Dalam laporannya, Ketua Badan Pelaksana Cabang (BPC) SPI Ogan Ilir, Muhammad, memaparkan capaian dan tantangan kepengurusannya selama periode sebelumnya. Ia menyebut pentingnya memperkuat organisasi di tingkat desa sebagai kunci dari perjuangan agraria yang lebih luas.
Rangkaian sidang paripurna yang digelar sepanjang hari menetapkan sejumlah keputusan strategis. Mulai dari tata tertib sidang, pemilihan Majelis Cabang Petani, hingga pemilihan Ketua DPC SPI Ogan Ilir periode 2025–2030. Muhammad akhirnya kembali dipercaya menakhodai organisasi petani tersebut setelah sebelumnya menjabat sebagai Pelaksana Tugas (PLT) Ketua.
Adapun struktur Majelis Cabang Petani untuk lima tahun ke depan diisi oleh tokoh-tokoh yang telah lama aktif di basis: H. Misbahuddin, Jamaludin, dan Rini Yanti.
Muscab kali ini bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun SPI ke-27. Sebuah tumpeng dipotong sebagai simbol syukur dan pengingat atas panjangnya jalan perjuangan petani Indonesia menuju kedaulatan dan keadilan agraria. Tak ada gemerlap, tak ada euforia berlebihan—yang hadir justru semangat kolektif dan tekad yang lebih kukuh.
Muhammad menyatakan bahwa amanat yang diembannya kali ini bukan sekadar jabatan organisasi. “Ini adalah panggilan perjuangan. SPI bukan sekadar wadah, tapi rumah bersama bagi petani untuk bangkit, bersuara, dan menentukan nasibnya sendiri,” ujarnya.
Dengan suasana yang kian menghangat oleh diskusi dan refleksi, Muscab ditutup menjelang senja. Namun semangat yang dibawa para peserta tak berhenti di ruang sidang. Dari Rengas, pesan konsolidasi ini dibawa pulang ke desa-desa, sebagai bara kecil yang siap menyala menjadi api gerakan.
Laporan : Lucky Wijaya












