SORONG, Catatan Jurnalist — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN) melalui Kementerian Dalam Negeri menggelar Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) di Aula Rektorat Lantai III UNAMIN, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Kamis (22/1/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Rabu–Kamis (21–22 Januari 2026), ini diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas, serta dihadiri simpatisan dan tamu undangan. LDKM menjadi ruang pembentukan karakter kepemimpinan sekaligus penguatan peran strategis mahasiswa di tengah dinamika sosial.
Salah satu sesi penting diisi oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) SAGU yang membawakan materi bertajuk “Manajemen Organisasi dan Fungsi Sosial Mahasiswa.” Materi ini menyoroti pentingnya tata kelola organisasi yang sehat sebagai fondasi utama gerakan mahasiswa, mulai dari perencanaan program, pengorganisasian, kepemimpinan, hingga evaluasi kegiatan.
Pemateri menegaskan bahwa organisasi mahasiswa tidak boleh berhenti pada aktivitas seremonial kampus semata. Lebih dari itu, organisasi mahasiswa harus menjadi ruang pembelajaran demokrasi, etika kepemimpinan, serta praktik pengambilan keputusan yang profesional, transparan, dan akuntabel agar mampu memberi dampak nyata, baik bagi anggota maupun masyarakat luas.
Selain aspek manajerial, fungsi sosial mahasiswa juga menjadi sorotan utama. Mahasiswa dipandang memiliki posisi strategis sebagai agent of change dan social control dalam merespons persoalan sosial, ketidakadilan, serta kebijakan publik yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat.
Sekretaris LBH SAGU, Hariyadi Alexander atau yang akrab disapa Sagey, menekankan bahwa keberhasilan organisasi mahasiswa sangat ditentukan oleh kolaborasi antara pengurus dan seluruh anggota. Ia juga mengulas peran kaum intelektual mahasiswa dalam masyarakat, yang menurutnya dapat dibagi ke dalam dua kategori, yakni intelektual tradisional dan intelektual organik.
“Mahasiswa itu adalah orang yang terdaftar di perguruan tinggi, tapi soal intelektual, belum tentu. Aktivitas intelektual harus berjalan seiring dengan kualitas berpikir dan keberpihakan,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat pada dasarnya juga melakukan aktivitas intelektual dengan mengonsumsi dan menerjemahkan informasi. Namun, mahasiswa memiliki tanggung jawab lebih besar untuk menyatukan pemikiran akademis dengan realitas masyarakat kecil.
“Intelektual mahasiswa yang sesungguhnya adalah mereka yang menyatukan pikirannya dengan rakyat, menjadi penyeimbang kebijakan pemerintah, serta mengadvokasi hak-hak dasar masyarakat. Peran mahasiswa yang berkualitas sangat krusial karena mahasiswa selalu menjadi catatan penting dalam perjalanan sejarah bangsa,” tegasnya.
Alexander juga menyoroti pentingnya pemanfaatan media sosial sebagai bagian dari tanggung jawab intelektual mahasiswa. Menurutnya, ruang digital harus dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi edukatif, melawan hoaks, serta mendorong sikap kritis masyarakat terhadap persoalan sosial di sekitarnya.
Kegiatan LDKM ini ditutup dengan sesi diskusi interaktif. Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok untuk menyampaikan pandangan dan gagasan mereka, yang kemudian ditanggapi langsung oleh pemateri. Diskusi berlangsung dinamis dan menunjukkan antusiasme mahasiswa dalam memahami peran organisasi dan fungsi sosialnya.
Laporan: Eskop Wisabla















