SORONG, Catatan Jurnalist — Himpunan Pelajar Mahasiswa/i kabupaten Yalimo (HPMKY) kota Studi Sorong Provinsi Papua Barat Daya, mendesak Kepolisian Daerah (Polda) Papua dan Kepolisian Resor atau Polres Yalimo, Papua Pegunungan mengusut terduga pelaku ujaran rasisme, yang disinyalir memicu insiden rusuh di Elelim, ibu kota Kabupaten Yalimo.
Ketua BP-HPMKY Hori Mabel mengkronologikan peristiwa berdarah yang terjadi di Kabupaten Yalimo, bermula pada (15/09/2025) ada seorang siswa anak Papua asli Elelim Yalimo, di sekolah SMA Negeri 1 Elelim, melukis sebuah gambar serupa manusia di papan tulis, Kemudian siswa-siswi sesama Papua yang lain menilai ukiran seni ini sebagai hal yang menarik indah dipandang mata.
“Namaun kemudian salah satu siswa sekelas berbeda pandangan, siswa tersebut menilai lukisan tersebut lalu mangatakan “Ko Gambar Itu Seperti Monyet, Seperti Ko Pu Muka Monyet, Ko Memang Monyet Sudah. Disinilah asal muasal mula terjadinya duduk persoalan yang menimbulkan insiden Yalimo tersebut. Siswa menilai perkataan yang dikeluarkan salah seorang siswa tersebut Rasisme. Pada Selasa (16/09/2025) siswa-siswi SMA N1 Elelim, anak-anak Asli Papua kompak, menunggu seorang siswa pelaku ujaran monyet itu setelah begitu tiba di sekolah, siswa-siswi Papua tanyakan. “kawan kemarin kenapa ko bilang Kami OAP Monyet. Lalu serentak ramai-ramai adu mulut maka seorang anak Non papua tersebut,” jelas Hori Mabel.
“Lalu siswa tersebut berlari, hendak menyelamatkan diri ke kantor guru, siswa-siswi OAP pun kejar masuk ke kantor di kantor, terdapat 2 orang Guru, lalu mereka melindungi Siswa Non OAP dan berupaya mendamaikan Siswa-siswi OAP, namun siswa-siswi OAP melakukan berlawanan terhadap kedua guru tersebut,” ujar Mabel di Sorong, kepada wartawan media ini, kamis (18/9/2025) malam.
Hori menyampaikan, Setelah kejadian di kantor sekolah, anak siswa-siswi OAP keluar dari Halaman Sekolah dan bertindak menuju ke rumah anak Non OAP, dan Bakar kios milik orang tua anak yang ujaran Monyet itu, Sebagai kemarahan dari siswa-siswi anak-anak Papua.
“Labih lanjut peristiwa tersebut meluas hingga kemudian warga dari jalan atas, bawah, depan, belakang, segera mendatangi dan kumpul sekitaran rumah pelaku yang dinilai telah membuat ujaran rasis tersebut. Lalu massa melakukan serangan ke kios-kios yang lain milik warga pendatang (Non OAP), hingga cepat menyebar kerusuhan bakar-membakar kios, hingga berujung korban nyawa warga sipil,” jelas Ketua HPMKY PBD ini.
Kata dia, berdasarkan data yang diperoleh pihaknya dari warga di Yalimo, korban yang tertembak bernama Alex Tuliahanuk seorang siswa SMA, Thomas Aliknoe dan Siro Wandik yang merupakan warga sipil, bernama Sadrak Yohame yang diduga tertembak peluru aparat sehingga menyebabkan keduanya meninggal dunia.
“Kericuhan di Yalimo ini murni melawan ujaran rasisme. Kami sangat disayang aksi spontan dari siswa-siswi di Yalimo itu mereka melawan ujaran yang merendahkan martabat harga diri kami orang Papua khusus orang Yalimo. Karena pada dasarnya Rasisme musuh dunia, bukan orang Papua di Yalimo saja,” tukas Hori.
Simak juga:
HPMKY kota Studi Sorong Papua Barat Daya dengan pernyataan sikap resmi sebagai berikut:
- Kami mendesak pelaku penembakan terhadap Sadrak Yohame harus bertanggung jawab. Secara jujur dan transparansi kepada orang papua terlebih khusus di kabupaten yalimo provinsi papua pegunungan.
- Hentikan Rasisme sebab Rasisme, adalah musuh dunia oleh seluruh bangsa rasisme pembedaan, perlakuan tidak adil, atau kebencian terhadap seseorang atau kelompok orang berdasarkan ras, warna kulit, asal-usul etnis, atau identitas budayanya sengaja atau tidak sengaja, Rasisme diskriminasi, penghinaan, kekerasan, bahkan kebijakan negara yang merugikan suatu kelompok.
- Rasisme bertentangan dengan nilai kemanusiaan universal, hak asasi manusia (HAM), dan prinsip persamaan derajat.
- Kami bangsa papua lebih khusus umat manusia di seluruh dunia, menyatakan bahwa Semua manusia dilahirkan merdeka dan setara dalam martabat serta hak-haknya, tanpa membedakan ras, warna kulit, etnis, agama, atau asal-usul.
- Rasisme diskriminasi rasial, kolonialisme, dan segala bentuk kebencian berbasis identitas adalah kejahatan terhadap kemanusiaan.
- Aksi spontan olah pelajar berujung pada aksi protes dan pembakaran dari warga di kabupaten yalimo itu bagian dari bentuk penolakan , segala bentuk penghinaan, marginalisasi, kekerasan, maupun kebijakan yang bersifat rasis terhadap orang papua terlebih khusus pelajar di kabupaten yalimo dan hal seperti ini pasti dimana pun terjadi akan terjadi burulang-ulang.
- Maka kami sebagai anak bangsa meminta kepada semua pihak Tokoh pemerintah, masyarakat, gereja, mahasiswa LSM, dan advokat kemanusiaan serta aktivis pro demokrasi dan anti rasisme di papua, meminta kepada kepolisian Republik Indonesia TNI POLRI dan polres yalimo segera bertanggung jawab atas tindakan eksekusi mati terhadap pemuda papua di yalimo.
- Kepolisian polres yalimo dan polda papua segera menangkap pelaku aktor rasisme di yalimo , dan sampaikan secara terbuka kepada publik untuk diketahui bersama.
- Kapolres Yalimo juga segera bertanggung jawab atas perintah dan penembakan terhadap sadrak yohame di Yalimo.
- Kami mendesak kepada polres yalimo agar tidak melakukan mobilisasi penambahan militer dari wamena ke yalimo dengan atas nama pengamanan situasi, karena kehadiran dan pendoropan militer akan berdampak pada Eskalasi situasi akan tambah meningkat di kalangan warga sipil di kabupaten yalimo.
- Rasisme adalah penyakit yang selalu meresap tumbuh subur di tangan para penjajah maka siapapun harus menolak terhadap suku ras dan agama serta lainnya sebagai bentuk menyelamatkan diri dari Etnosida.
- Jika pemerintah dan aparat kepolisian tidak melakukan penangkapan dan bertanggung jawaban atas pelaku rasisme dan penembakan di yalimo maka mahasiswa akan mobilisasi setiap kota studi di Indonesia dan akan menduduki ibu kota elelim dan mengusir semua warga imigran yang ada mulai dari PNS oraang non papua pengusaha PT sampe kios kios di yalimo tukang ojek, tukang bangunan, tukang sensor, semua penduduk imigran kami akan bersihkan mengusir dari tanah yalimo.
- HPMKY mengancam tegas media online, agar stop mempropaganda situasi ujaran rasisme di kabupaten Yalimo.
- Mengutuk keras agar Pangdam cendrawasi segara hentikan memberikan berita hoax di media masyarakat di Yalimo.
- Kami mendesak segera Copot Polres Yalimo dari jabatannya.
Baca Juga:
Laporan: Eskop Wisabla















