SORONG, Catatan Jurnalist — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra memilih Papua Barat Daya sebagai panggung strategis penguatan politik kebangsaan, dengan menggelar Seminar Nasional dan Perayaan Natal Nasional di Vega Prime Hotel & Convention, Kota Sorong, Jumat (16/1/2026).
Mengusung tema “Membangun Indonesia dari Timur”, forum nasional ini menegaskan pesan politik bahwa Papua bukan lagi pinggiran, melainkan bagian sentral dalam agenda besar pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Ketua Panitia Seminar Nasional dan Natal Nasional Partai Gerindra, Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu, menyatakan bahwa kepercayaan menjadikan Papua Barat Daya sebagai tuan rumah memiliki makna kebangsaan yang kuat.
“Ini bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi pernyataan politik kebangsaan bahwa Papua adalah bagian utuh dari Indonesia dan harus dibangun secara adil dan setara,” ujar Elisa Kambu.
Ia menegaskan, rangkaian kegiatan juga diisi dengan bakti sosial dan pelibatan kelompok rentan, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus, sebagai wujud kehadiran negara di Tanah Papua.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA), Nikson Silalahi, menyebut Papua memiliki kekayaan sumber daya alam yang strategis secara nasional. Namun, tantangan utama Papua ke depan adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Papua tidak kekurangan sumber daya alam, yang dibutuhkan adalah penguatan kualitas manusianya. Di sinilah peran politik kebangsaan—bagaimana kebijakan pusat dan daerah berpihak pada manusia Papua,” kata Nikson.
Ia menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan pemerintah pusat dan daerah agar program prioritas nasional benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat Papua.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina PP GEKIRA sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo, menegaskan bahwa Pancasila adalah fondasi utama persatuan Indonesia, terutama di tengah keragaman Papua.
“Indonesia berdiri karena Pancasila. Tanpa Pancasila, tidak ada NKRI. Papua adalah contoh nyata bagaimana keberagaman justru menjadi kekuatan bangsa,” tegas Hashim.
Ia menilai Seminar Nasional dan Natal Nasional ini merupakan ruang refleksi kebangsaan di tengah tantangan global, polarisasi sosial, dan dinamika geopolitik yang menuntut persatuan nasional semakin kokoh.
Hashim juga menegaskan peran strategis umat Kristiani dalam menjaga keutuhan bangsa serta berkontribusi aktif dalam pembangunan nasional melalui nilai kasih, pelayanan, dan pengabdian sosial.
“Politik kebangsaan harus berpijak pada nilai iman, kemanusiaan, dan persatuan. Dari Papua, kita kirim pesan bahwa Indonesia dibangun bersama, tanpa meninggalkan siapa pun,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh kader GEKIRA dan Partai Gerindra untuk terus mengawal nilai-nilai Pancasila, memperkuat toleransi antarumat beragama, serta memastikan pembangunan nasional berjalan adil dan berdaulat.
“Kekuatan iman dan nasionalisme adalah fondasi Indonesia ke depan. Papua adalah bagian penting dari masa depan itu,” pungkas Hashim.
Laporan : Eskop Wisabla















