SORONG, Catatan Jurnalist — Pemerintah Pemprov Papua Barat Daya menggelar rapat bersama Yayasan Bejana kasih Papua (YBKBP) dan perwakilan Orang tua mahasiswa-mahasiswi terkait persoalan beasiswa Vokasi Jepang, Jogja jepang China dan beberapa negara di luar negeri. Mediasi yang ditengahi langsung Gubernur Papua Barat Daya (PBD) Elisa Kambu didampingi Sekda PBD dan Dinas Pendidikan. Dalam arahannya Gubernur menegaskan pendidikan itu menyangkut harga diri orang Papua, sehingga setelah pertemuan semua berkomitmen untuk mengambil langkah-langkah kongkrit.
“Berkaitan dengan keberadaan anak-anak kita, baik Golden Gate School dan Bejana kasih Papua informasi ini kita dapatkan dari orang tua anak-anak, kita menerima jadi perlu duduk bersama lalu memberikan kesempatan kepada orang tua untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan. Karena informasi tersebut berhubungan langsung dengan orang tua mereka. Nah, terus nanti dari pihak Yayasan Bajana kasih Papua maupun Golden Gate School juga memberikan informasi,” Elisa Kambu di hotel Belagri kota Sorong, Sabtu (20/9/2025).
“Setelah itu baru kita bisa diskusi sama-sama, jalan keluarnya bagaimana. Nanti keputusannya bagaimana, akan kita putuskan. Ya, kita akan mencari yang terbaik dari yang baik. Yang tidak merugikan orang tua dan tidak memeratkan pemerintah yang juga tidak mempercayai pihak Yayasan. Jadi, posisi kita sangat positif,” ungkap Gubernur PBD Elisa Kambu.
Anance Dimara, orang tua dari Analisis Arfaian mahasiswa di China menyampaikan, terkait anaknya dikira pergi ke China untuk kuliah, ternyata mereka kerja yaitu magang, tetapi magang ini agak berat, karena sudah tiga bulan dirinya mendapatkan laporan, untuk kegiatan praktek dimulai dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam.
“Saya pikir mungkin mereka pergi kuliah. Tetapi ada pekerjaan, pekerjaan itu kan anak saya ini tidak terbiasa bekerja. Kenapa harusnya anak pergi kesana untuk kerja,” kata Anance Dimara.
Anance Dimara berharap sebagai orang tua bahwa anaknya pergi kuliah untuk mencari ilmu, ilmu yang diperoleh disana dapat dibawa dan dikembangkan di Tanah Papua.
“Bukan mereka dijadikan pekerja di sana, Saya cuma bilang begini, Tuhan, saya punya anak ini jauh dan saya tidak bisa melihat mereka. Tapi saya minta Tuhan dengan kuasa darah Yesus untuk saya punya anak itu diselamatkan,” harap Anance.
Orang tua dari Analisis Arfaian mahasiswa di China berharap kepada pemerintah bahkan Yayasan Agar bisa memberikan fasilitas yang memadai untuk anak beasiswa Vokasi di luar negeri seperti jepang dan China. mereka kuliah di sana sangat membutuhkan dukungan maka tolong diperhatinkan, karena mereka manusia bukan robot.
Diutarakan Anance Dimara, dirinya sebagai ibu tidak hanya melahirkan anak, tetapi mereka adalah penerus bangsa untuk negeri ini.
“Maka itu Pemerintah lebih intensif melihat hal tersebut. Kalau memang tidak ada tanggapan yang serius untuk anak-anak ini, Saya minta untuk saya punya anak dikembalikan saja ke Sorong,” ucapan Anance dengan mencucurkan air mata di depan Gubernur PBD.
Sarce Lina Wambrauw Penerima beasiswa Vokasi Jepang turut menceritakan saya ditolak sekolah di Jepang dengan alasan usia tidak memenuhi syarat. Yang diminta usia dibawah 30 sedangkan saya usia 30.
“Hal itu yang membuat saya kembali ke Sorong, sebenarnya dari pihak Yayasan ingin mencari sekolah lain lagi, Agar saya tidak kembali Sorong tapi saya berpikir bahwa saya terlalu lama menghabiskan waktu di sana. Saya baru tahu bulan September antar Oktober itu saya baru di kasih tahu kalau umur Saya tidak bisa diterima di sana, Terus awal kami seleksi di Sorong kenapa kami diterima, saya sangat kecewa,” ujar dengan mata berkaca-kaca.
Sarce Lina Wambrauw mengatakan seleksi beasiswa Vokasi sejak tahun 2023, sekitaran bulan Juni-Juli sebanyak 60 peserta. Masing-masing pulang ke Sorong dengan alasan yang berbeda beda. Kami sangat menyesal kepada Yayasan bahkan pemerintah terutama dinas pendidikan PBD yang tidak mengatur kami dengan selayaknya disana.
“Tempat tinggal kita bisa bilang lebih baik, tapi itu juga awal-awal kendala karena satu kamar 3 orang, bahkan kita pindah tempat lagi harus 4 orang, hal itu yang membuat kita menyesal dalam hal ini beasiswa Vokasi ke Jepang. Kalau teman-teman lain ada yang pulang seperti saya juga maksudnya bukan karena usia tapi karena mereka sangat lama tidak ada kejelasan keberangkatan. Mereka sudah bosan makan tidur belajar pun juga tidak niat, untuk makan minum sendiri Bosan dengan menu makanan yang sama selama satu Tahun,” ungkap Sarce Lina Wambrauw.
Sarce Lina Wambrauw juga menceritakan selama di Jogjakarta seolah-olah dirinya berperan ketua Yayasan ada persoalan yang dihadapi, dirinya yang berhadapan dengan berbagai kendali dialami oleh peserta di sana. Sarce Lina Wambrauw menyampaikan sangat kecewa pertemuan hari ini.
“Saya minta bertanggungjawab dari Yayasan Bejana Kasih Papua maupun dinas pendidikan agar memberikan Kompensasi ganti rugi yang selama satu tahun namun jawabannya tidak ada. Sebanyak 60 peserta beasiswa Vokasi kini 9 orang berada di Jogja, 10 orang di Jepang berarti sebagain besar semua sudah kembali ke Sorong.ia Menyarankan agar kedepannya jika ada program serupa pentingnya riset jejak dari yayasan tersebut. Supaya tidak mengorbankan generasi di kemudian hari,” Sarce tukasnya.
“Kita ini sebenarnya bukan S1, S2 untuk sekolah di Jepang, pertama kita dijanjikan itu kita kuliah. Jadi pikirian yang itu kan saya S1 saya kan lajut S2 begitu pun SMA akan lanjut S1 ternyata kita bukan seperti itu , kita hanya Les bahasa Jepang, kalau begitu kenapa harus ke Jogja kita bisa di Sorong pemerintah datangkan lembaga pelatihan kursus (LPK) di Sorong,” pungkas Sarce Lina Wambrauw.
Ketua Yayasan Bejana Kasih Bumi Papua Nerius Albertus Tulalessy, ucapkan terima kasih serta apresiasi kepada gubernur PBD, Pak Sekda, kepala dinas pendidikan yang telah menengahi persoalan antara yayasan dan orang tua siswa.
“Jadi hal-hal yang menyangkut hak-hak anak-anak yang tertunda, karena di tengah-tengah efisiensi anggaran seorang pemimpin bisa mengambil langkah seperti itu luar biasa. Tetapi kemudian tadi kalau kita dengarkan dari Pak Gubernur sendiri kasih tahu komitmennya, bahkan beliau tidak menunggu lama langsung minta eksekusi besok,” kata Nerius Albertus Tulalessy.
Lebih lanjut Nerius Albertus Tulalessy menekankan sebagai tim rekan kerja, lembaga yang dipercayakan untuk mengurusi pendidikan ini, YBKBP untuk studi Vokasi ke Jepang Memang kita memulai dengan Banyak lika-liku. Berharap kepada anak-anak yang dapat kesempatan studi ke luar negeri ini. Supaya hak-hak mereka itu harus dipergunakan dengan rasa tanggung jawab. Sehingga kedepankan lahirnya generasi Papua yang tangguh-tangguh. Kemudian menggantikan pemimpin-pemimpin yang sekarang ini.
“Ini kan tadi kita dengarkan ada kendala-kendala yang mungkin efisiensi anggaran yang akhirnya itu berpengaruh kepada makan minum anak-anak, biaya-biaya yang lain untuk pendidikan mereka. Tapi Gubernur menyatakan bahwa ini menyangkut harga diri, jadi harus diselesaikan. persoalan itu makanya kita patut berterima kasih,” ungkap Nerius Albertus Tulalessy.
Dalam kronologinya, Pertama dibawa 60 orang, tapi kemudian di tengah jalan ada kendala-kendala soal bahasa, lalu ada hal-hal lain begitu yang kemudian membuat sejumlah anak itu tidak dapat melanjutkan pendidikan. Akhirnya mereka kembali, sampai ke Jepang ada 13 anak, tapi 3 pulang, sisa 10 masih di Jepang.
Lapooran: Eskop Wisabla















