SORONG, Catatan Jurnalist – Suasana duka atas meninggalnya seorang petugas keamanan Hotel Rylich Panorama, Maksi Bless, berubah menjadi aksi protes. Keluarga korban membawa jenazah almarhum ke Polresta Sorong Kota di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Papua Barat Daya, pada Senin (27/4/2026) malam.
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk tuntutan keadilan, lantaran keluarga menilai penanganan kasus oleh pihak kepolisian belum maksimal. Kedatangan keluarga dan kerabat korban diwarnai aksi pembakaran ban yang menimbulkan asap hitam pekat hingga menyebabkan arus lalu lintas di sekitar lokasi sempat lumpuh akibat blokade jalan di depan pintu masuk Polresta.
Dalam aksi itu, keluarga menyampaikan kekecewaan atas lambannya penanganan kasus penikaman yang merenggut nyawa Maksi Bless. Mereka mendesak aparat kepolisian segera menangkap pelaku dan memprosesnya sesuai hukum yang berlaku.
“Kami minta keadilan. Pelaku harus segera ditangkap dan dihukum,” ujar salah satu anggota keluarga korban.
Jenazah almarhum sempat tertahan di depan Polresta Sorong Kota. Keluarga bahkan mengultimatum aparat untuk menangkap pelaku dalam waktu 1×24 jam. Mereka menegaskan tidak akan meninggalkan lokasi sebelum ada kepastian hukum.
Aksi ini merupakan lanjutan dari protes sebelumnya yang dilakukan keluarga di kawasan Tugu Pancasila, Jalan Sam Ratulangi, Distrik Sorong Kota, pada Minggu (26/4/2026).
Sejumlah aparat kepolisian terlihat berjaga di sekitar lokasi untuk mengamankan situasi. Negosiasi antara pihak keluarga dan kepolisian pun terus dilakukan. Namun, situasi sempat memanas dan terjadi bentrokan antara massa dengan aparat keamanan.
Di tengah ketegangan tersebut, mobil jenazah terlihat terparkir di lokasi aksi, sementara keluarga korban terus menyuarakan tuntutan mereka. Selain mendesak kepolisian, keluarga juga meminta Pemerintah Kota Sorong turut turun tangan dalam penanganan kasus ini.
“Kami ingin pemerintah hadir, melihat dan mendengar langsung tuntutan kami. Harus ada kerja sama antara pemerintah dan kepolisian agar pelaku segera terungkap,” tegas pihak keluarga.
Keluarga menilai pengungkapan kasus ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab kepolisian, namun hingga kini belum terlihat langkah konkret dalam menangkap pelaku.
Kasus ini pun menjadi perhatian publik dan diharapkan segera menemukan titik terang demi memberikan keadilan bagi korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Kronologi Kejadian
Perwakilan manajemen hotel, Ricky Yafet, menjelaskan kronologi berdasarkan informasi internal. Korban dijadwalkan bertugas pada pukul 23.00 WIT, namun hingga pukul 01.00 WIT belum hadir karena kondisi tertentu.
Atas izin manajemen, korban diminta beristirahat dan tidak melanjutkan tugas malam itu. Sekitar pukul 03.00 WIT, korban diketahui keluar dari hotel setelah berpamitan kepada rekan kerja dengan alasan membeli es batu.
Sekitar pukul 04.00 WIT, pihak manajemen menerima laporan bahwa korban ditemukan dalam kondisi terluka akibat penikaman di sekitar depan kantor Bulog. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit dan menjalani operasi dalam kondisi sadar, namun akhirnya meninggal dunia akibat luka tusukan yang cukup parah.
Berdasarkan informasi yang beredar, pelaku diduga berjumlah dua orang dan menggunakan sepeda motor. Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas dan keberadaan pelaku.













